Pada hari Jum’at, 8 Januari 2021, SMK St. Louis mengadakan misa perdana di tahun yang baru ini. Pada perayaan ekaristi ini tema yang diangkat adalah “…dan mereka akan menamakan Dia Imanuel (Matius 1:23)”. Misa dipimpin oleh Romo Alexius Dwi Widiatna, CM. Protokol kesehatan yang ketat masih harus diterapkan selama misa berlangsung di ruang aula SMK St. Louis, Surabaya. Protokol kesehatan yang ketat ini diterapkan bukan hanya untuk sekedar mengikuti aturan, melainkan benar-benar untuk melindungi keluarga SMK St. Louis dari penyakit yang dapat mengancam kesehatan. Membahas kesehatan tentu juga berkaitan dengan penyakit, mulai dari yang sedang melanda sekarang yaitu covid-19 ataupun yang namanya sudah jarang didengar seperti kusta. Lalu apakah hubungan penyakit kusta dengan misa hari ini?

Hari ini Romo Alexius Dwi Widiatna, CM menyampaikan homili tentang orang yang sakit kusta. Beliau menyampaikan bahwa pada jaman dahulu banyak yang percaya bahwa penyakit kusta merupakan hukuman dari Tuhan atas dosa yang telah diperbuat oleh seseorang. Bukan hanya penyakit kustanya saja yang dapat menular, melainkan juga dosanya. Beliau mengatakan bahwa kusta adalah penyakit yang menjangkit pelan-pelan tetapi mematikan. Hingga pada suatu ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta, lalu ia menyuruh orang itu untuk pergi ke imam. Imam tersebut yang akan menentukan apakah seseorang sudah sehat atau belum. Jika orang tersebut memiliki penyakit kusta, maka orang tersebut akan disingkirkan dan diasingkan.

Dari kisah orang sakit kusta tersebut romo menghubungkan penyakit kusta yang ada pada jaman dahulu dengan kusta yang ada pada jaman sekarang. Kusta yang melanda pada jaman sekarang adalah kusta rohani. Dimana setiap orang perlahan-lahan melalaikan hidup rohani, seperti penyakit kusta fisik yang menjangkit pelan-pelan tetapi mematikan hidup jasmani seseorang. Melalaikan hidup rohani dapat berupa menunda-nunda perbuatan baik yang seharusnya dapat kita lakukan. Perbuatan baik maupun pebuatan jahat selalu diawali dari hal yang kecil dan sederhana hingga akhirnya berkembang menjadi hal yang besar. Saat kita terbiasa melakukan hal baik, maka sebenarnya kita sedang melatih rohani kita.

Dari pesan romo diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa selain penyakit fisik, ada juga penyakit rohani. Jika penyakit fisik berdampak pada bentuk dan keadaan fisik seseorang, penyakit rohani akan berdampak pada sikap dan perilaku seseorang. Lantas, apakah ada cara untuk menyembuhkan penyakit rohani ini? Apakah dengan berbuat baik saja sudah cukup? Apakah saya sudah berbuat baik? Semoga misa perayaan natal dan tahun baru ini dapat mejadi berkat pada kehidupan kita semua. Terima kasih telah membaca, Selamat Natal 2020 dan Tahun baru 2021.

Recent Posts

Share this Article